SEJARAH DESA CIMARI


SEJARAH DESA CIMARI

 

        Asal-usul / Legenda Desa

Pada zaman sebelum merdeka dan sebelum Desa Cimari lahir atau terbentuk, ada tujuh orang yang gagah berani yaitu :

1.   Eyang Setia Tirta Wiguna

2.   Embah Bayantaka Jaya

3.   Nyi Mas Cimari

4.   Embah Dipanana

5.   Eyang Tajur Halang

6. Ki Rakiban

7. Majaka Deni
Konon Ke Tujuh “sesepuh” tersebut  masih keturunan Kerajaan Kawali, ke Tujuh sesepuh hidup saling berdampingan bersama-sama dengan warga masyarakat sekitarnya dan sebagai sumber penghidupan pada waktu itu dari hasil pertanian baik pertanian tanaman pangan, peternakan maupun perikanan.

Dalam keadaan dan situasi sedang aman tentram tiba-tiba dihebohkan dan dikejutkan dengan kejadian ada seekor badak besar mengamuk, padahal biasanya badak tersebut tidak pernah mengganggu dan tidak pernah ada yang mengganggu. Badak tersebut biasanya berkubang di suatu tempat yaitu di Lembah Mah Gunung  tanpa ada yang mengusik.

Entah kenapa waktu itu badak tersebut terus mengamuk merusak “tatanen” rakyat sehingga meresahkan warga masyarakat dan akhirnya ke lima “sesepuh” berembuk untuk menentukan bagaimana caranya menangkap badak yang sedang mengamuk tersebut.

Pada mulanya ke Tujuh sesepuh tersebut biantara mengumumkan kepada seluruh warga masyarakat, bahwa barang siapa yang berani menangkap badak tersebut akan diberi hadiah, namun tak seorang pun warga yang berani beradu nyali menangkap badak tersebut, dan akhirnya ke lima “sesepuh” berembuk lagi dan Eyang Setia Tirta Wiguna yang dituakan mendapatkan mandat untuk menangkap badak dengan segenap kemampuannya.

Dengan segala persiapannya termasuk senjata untuk melumpuhkan badak, Eyang Setia Tirta Wiguna membawa sebuah tongkat terbuat dari Haur Kuning, kemudian Eyang Setia Tirta Wiguna mendatangi badak yang sedang berkubang di Lembah Mah Gunung, tanpa pikir panjang dan dengan penuh perhitungan Eyang Setia Tirta Wiguna langsung menerjang badak dan terjadi pergumulan sengit antara keduanya, kemudian Eyang Setia Tirta Wiguna mengeluarkan senjatanya yaitu haur kuning yang langsung dilemparkan dan tepat mengenai sasarannya kemudian badak tersebut terus mengamuk, karena terus mengamuk maka Eyang Setuia Tirta Wiguna langsung meloncat dan duduk di atas punggung badak yang sedang mengamuk itu.

Ketika Eyang Setia Tirta Wiguna berada di atas punggung badak, bukannya diam malahan mengamuk menjadi jadi, terus berlari dan sampai ke suatu tempat. Karena kehausan Embah Setia Tirta Wiguna mencabut haur kuning yang menancap di badan badak tersebut, kemudian haur kuning tersebut mengeluarkan air yang langsung diminum oleh Eyang Setia Tirta Wiguna untuk menghilangkan rasa dahaganya maka disitu lahirlah daerah yang dinamakan Cihaurbeuti, artinya Cihaur adalah air dari bambu dan beuti artinya bambu tersebut ditanam di atas tanah yang subur.

Dari Cihaurbeuti badak terus mengamuk dan kembali lagi dan sempat singgah di Daerah Gunung Cupu dan dilanjutkan galungan (berkelahi) di Daerah Cikoneng, dari Cikoneng kembali ke suatu tempat dan kembali galungan (berkelahi) sampai tempat tersebut menjadi ledug (kotor) dan sampai saat ini blok/tempat galungan sengit dinamakan Blok Ciledug, sedangkan tempat berlangsungnya galungan badak mengeluarkan kotoran atau modol mengeluarkan pari artinya tai hideung sambil terus abrag-abragan, pari bercampur air sehingga menghasilkan air berwarna hitam.

Badak kembali lagi ketempat kubangan asal sambil kembali bergumul dengan Eyang Setia Tirta Wiguna kemudian keduanya kehabisan tenaga dan akhirnya keduanya mati baik badak maupun Eyang Tirta Wiguna.

Melihat kejadian tersebut Embah Bayantaka Jaya, Nyi Mas Cimari, Embah Dipanana dan Eyang Tajur Halang menguburkan badak dan Eyang Setia Tirta Wiguna di Lembah Mah Gunung, maka untuk mengenang kejadian tersebut ke empat sesepuh berembuk dan akhirnya memutuskan bahwa daerah yang mereka diami dinamakan Cimari yang artinya diambil dari Cai Hideung; dan juga untuk mengingatkan generasi selanjutnya mengambil dari nama seorang sesepuh yaitu Mas Cimari karena Nyi Mas Cimari lah satu-satu nya perempuan gagah dan sakti dari kelima sesepuh tersebut.

Sebelum ada kejadian itu Cimari sering disebut Cimarongmong, Karena pada waktu itu warga beradu mulut merencanakan sebuah jembatan dan lahirnya Cimarongmong yang artinya banyak bicara dalam bermusyawarah, ketika itu jembatan yang dinamakan Cimarongmong termasuk nama sungainya yang sekarang Curug Rawi.

Dan akhirnya pada saat masih penjajahan Belanda Ratu Wilhelmina menunjuk Kepala Desa pertama pada Tahun 1932 yaitu Bapa Karna Suanda jadi Desa Cimari lahir pada tahun 1932 dengan Kepala Desa pertama Bapa Karna Suanda dan Ratu Wilhelmina meresmikan nama daerah yang dipimpin Kepala Desa pertama yaitu Cimari.

Pada waktu itu setelah lahirnya Cimari oleh keempat sesepuh maka lahir pula nama kampung yang disebut Jalatrang, nama tersebut diambil dari kata Jala dan siang atau terang.

Kisahnya pula waktu itu Nyi Mas Cimari dan Eyang Tajur Halang dipercaya untuk mengurus Labuan Bulan atau air yang mengalir berasal dari tanah agar daerah pertanian dan perikanan tetap berproduksi.

Labuan Bulan berada di daerah / Lembur Rancabala yang artinya, Ranca adalah sawah jero dan bala artinya tidak terpelihara, karena airnya berlimpah ruah berasal dari Labuan Bulan ditambah lagi air yang mengalir dari Selokan Curug Rawi dan oleh Mas Cimari dan Eyang Tajur Halang tempat tersebut dijadikan situ,lama kelamaan situ tersebut dihuni oleh ikan yang lama kelamaan ikan tersebut bertambah banyak dan menjadi besar karena terus menerus  berkembang biak, situ tersebut dikelola langsung oleh Mas Cimari dan Eyang Tajur Halang.

Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang melarang kepada siapapun untuk mengambil dan mengganggu ikan dengan maksud ikan tersebut tetap terpelihara kelestariannya.

Dua orang yang sama-sama memiliki berkelahi atau kadugalan yaitu Nasir dan Mukida yang pekerjaan sehari-harinya terkenal sebagai rampog atau garong sangat tertarik dengan keberadaan situ , kedua orang tersebut mencoba mengganggu keberadaan ikan disitu tersebut dengan cara nyair untuk mengambil ikan. Tindakan kedua orang tersebut dilaporkan oleh warga kepada Nyi Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang, maka diperingatilah kedua orang tersebut, namun mereka tidak terima nasihat yang diberikan oleh  Nyi Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang dan akhirnya mereka terjadi papaseaan.

Karena merasa terus menerus diawasi Nasir dan Mukida berencana  untuk maling ikan secara besar-besaran dengan membuat alat penangkap ikan yaitu jala.

Setelah pembuatan jala selesai, keduanya merencanakan ngala lauk pada malam hari, dan pada suatu malam keduanya dengan leluasa mengambil ikan dengan mempergunakan jala sehingga hampir semua jenis ikan yang ada di situ tersebut terangkat.

Keesokan harinyaNyi Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang kembali melaksanakan tugasnya datang ke situ, alangkah kagetnya melihat air situ yang semula bening menjadi keruh, beliau penasaran dan terus berjalan untuk mengelilingi situ dan lebih kagetnya lagi ditemukannya alat untuk mengambil ikan yaitu jala.

Siang hari yang sedang terang benderang disinari sang mentari maka Nyi Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang member nama daerah tersebut dan sekitarnya dengan nama Jalatrang.yang artinya Jala adalah alat penangkap ikan dan trang adalah siang hari.

Dengan demikian jalatrang adalah merupakan daerah yang sangat potensi untuk pengembangan kawasan pertanian.

 

Dusun Ranjirata

Nasim dan Mukida tidak henti-hentinya berbuat jahat, setelah mengambil ikan dari situ keduanya kembali merencanakan maling lauk ke daerah lain yaitu daerah yang masih berdekatan dengan situ karena di daerah tersebut ada kolam luas yang masih ada hubungannya dengan situ.

Pada saat Nasim dan Mukida akan kembali melaksanakan niat jahatnya  untuk maling ikan tiba-tiba jalanya tidak bias digerakan malahan keduanya  tertidur pulas selama tiga hari tiga malam di bawah kolom rumah penduduk karena kemungkinan keduanya tidak biasa mengambil ikan karena adanya pengaruh ilmu sakti dari seorang kakek yang bernama Aki Hulaemi.

Kemudian warga sekitar berniat untuk melaporkan ada dua orang yang yang tidak dikenal tidur di kolong rumah kepada  Nyi Mas Cimari dan Eyang Tajurhalang namun terlebih dahulu warga melaporkan kepada Aki Hulaemi putra dari Eyang Rajak, ketika Aki Hulaemi sedang melakukan awi gombong datanglah Nasir dan Mukida sambil mencak-mencak mengajak berkelahi tetapi sementara Aki Hulaemi diam, ketika Nasir dan Mukida mengeluarkan golok Aki Hulaemi memandang keduanya dan Aki Hulaemi mengambil pohon bambu/awi gombong yang belum dibeulahan, dengan sigapnya Aki Hulaemi memecahkan dan membelah awi gombong menjadi beberapa pecahan dengan menggunakan tangannya sendiri tanpa menggunakan alat apapun, Nasir dan Mukida pun kaget luar biasa dan akhirnya takluk dan minta ampun.

Untuk menghukum mereka berdua Aki Hulaemi teringat dengan sebauh pohon besar yang berdiri tegak di tengah kampung, pohon tersebut sangat besar dan dan berbuah sangat asam dan pohon tersebut bernama pohon asam karanji, Karena rasanya yang sangat masam oleh Aki Hulaemi buah asam  tersebut digunakan untuk menghukum kedua orang (Nasir dan Mukida) oleh Aki Hulaemi disuruh memakan buah asam karanji sebanyak-banyaknya, semenjak itu daerah dimana terdapat pohon besar dan daerah sekitarnya oleh Aki Hulaemi dinamakan Kampung Ranjirata yang artinya buah karanji ditanaman pada daerah yang datar atau rata.

Karena saking banyaknya memakan (ngokosan) buah asam karanji Nasir dan Mukida  kembali berlari dan dengan tidak terasa gigi kedua orang tersebut menjadi rontok dan tidak menentu dan akhirnya daerah tersebut dinamakan daerah Cikarohel, baik Blok Kosambi maupun Blok Cikarohel sekarang berada di suatu kampung yaitu Dusun Desa Wetan.

Setelah Nasir dan Mukada merasa memakan buah keranji merasa tidak kuat dan dan merasa kenyang keduanya terus mencari air minum atau sumber air maka terus berjalan maka keduanya menemukan daerah yang lengkob dan dibawahnya mengalir sumber air (cai nyusu) kemudian keduanya berniat untuk mengambil air, namun begitu sampai mereka sangat kaget begitu melihat air yang terdapat pada lengkob tersebut terdapat bayang-bayang dirinya didalam air, merekapun pingsan, ketika bangun dari pingsannya mereka lantas minum air tersebut, semenjak itu maka lahirlah daerah yang dinamakan Blok Leuwi Eunteung yang mengandung arti air yang berada di leuwi dan saking herangnya air tersebut bias dipakai untuk ngeunteung Daerah Leuwi Eunteung sekarang terletak di Wilayah Dusun Desa Kulon.

 

Dusun Sukasari

Alhasil dinamai tempat yang udaranya sangat sejuk dengan pemandangan yang indah dikarenakan daerah itu ada sebuah sungai berada di sebuah bukit yang airnya sangat jernih dan terus menerus mengalir dan jatuh di suatu lembah dan jatuh di tanah yang lengkob , dipandang indah karena air yang mengalir dari Omnyai Nyurug dan jatuh di tanah lengkob dan bergemuruh setiap hari oleh suara jatuhnya air yang cukup tinggi dari aliran Omyai tersebut, oleh warga setempat daerah ini dinamakan Blok Curug yang diambil dari air yang mengalir dari aliran Omyai terus jatuh (nyurug) ke tanah lengkob.

Diatas daerah curug air ada sebuah batu besar yang berdiri tegak dan diperkuat oleh akar-akar pepohonan yang berada disekitarnya dan konon katanya bila akar-akar tersebut putus maka besar aharap akan jatuh sehingga terjadi bencana.

Karena pengaruh dari proses alam air curug tersebut lama kelamaan menjadi sirna dan berubahlah Blok Curug menjadi Blok Sukasirna yang mengandung arti curug yang biasanya dimanfaatkan oleh warga sekitarnya juga berikut pemandangannya menjadi sirna atau tidak ada maka lahirlah sukasirna.

Tidak ada orang yang memberikan petunjuk atau informasi maka blok atau kampung sukasirna menjadi sukasari dan saat ini kampung tersebut menjadi sebuah dusun yaitu Dusun Sukasari dan Blok Sukasirna merupakan bagian dari Dusun Sukasari.